Perjanjian Aqobah

Sebelum Nabi hijrah ke Yastrib(Madinah), bukan berarti penduduk Yastrib tidak ada yang memeluk islam. Banyak orang Yastrib yang mengunjungi Mekah, terutama ketika musim haji tiba. Mereka banyak mendengar risalah islam dan sifat-sifat nabi Muhammad saw. Tidak jarang, mereka pun memeluk agama islam.

Pada tahun 12 kenabian, datang ke Mekah dua belas orang laki-laki dan seorang wanita dari Yastrib. Mereka menemui Nabi dan menyatakan bai’at(janji), bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah, mencuri, berzina, membunuh anak-anak, dan mendurhakai Nabi saw. janji mereka ini di kenal dengan Bai’atul Aqobah Ula(perjanjian Aqobah yang pertama).

Pada tahun berikutnya, datang kembali ke Mekah rombongan dari Yastrib. Mereka berjumlah 73 orang lakii-laki dan 2 orang wanita. Mereka menuju Aqobah secara sembunyi-sembunyi untuk menemui Rasuluullah. Di tempat ini mereka menyatakan janji setia kepada Nabi. Mereka berjanji akan membela Nabi dengan jiwa dan raga. Kemudian seorang demi seorang menjabat tangan Nabi sebagai tanda janji sudah pasti. Peristiwa ini dalam sejarah islam dinamakan Bai’atul Aqobah Tsaniah(perjanjian Aqobah kedua).

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara

Mendengarkan bacaan Alquran

Sebagai sebuah kitab suci dan mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw, Allah tidak hanya menilai ibadah orang yang membaca Alquran, tetapi juga bagi orang-orang yang mendengarkan bacaan kitab suci tersebut. Mendengarkan bacaan Alquran merupakan ibadah dan amal saleh yang bernilai pahala dan akan mendapat rahmat dari Allah SWT.

Sebagian ulama mengatakan bahwa mendengarkan orang yang membaca Alquran pahalanya sama dengan orang yang membacanya. Tentang pahala orang yang mendengarkan bacaan Alquran, dengan jelas dinyatakan dalam surah Al-A’raaf ayat 204, yang artinya : “ Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah (baik-baik) dan perhatikanlah dengan tenang, agar kamu mendapatkan rahmat.

Mendengarkan bacaan Alquran dengan baik, dapat menghibur perasaan yang sedih, menenangkan jiwa yang gelisah, dan melunakkan hati yang keras, serta mendatangkan petunjuk. Itulah yang dimaksud dengan rahmat Allah yang diberikan kepada orang yang mendengarkan bacaan Alquran dengan baik.

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara

Ajaran Tauhid Nabi Ibrahim as.

Suatu malam Raja Namrud bermimpi. Ia melihat seorang anak kecil melompat masuk ke dalam kamarnya dan merampas mahkotanya. Mahkota itu kemudian dihancurkannya.

Di kemudian hari anak itu menjelma pada diri Nabi Ibrahim. Beliau tampil dengan keberanian yang tiada tara dalam menyampaikan Ajaran tauhid. Hal pertama yang beliau lakukan adalah menasehati ayahnya, azar, yang bekerja sebagai pembuat patung.

Ketika Nabi Ibrahim menyadari bahwa ayahnya tidak lagi membutuhkan saran dan nasihatnya, akhirnya beliau pergi meninggalkan tempat tinggalnya. Nabi Ibrahim tidak lupa mendoakan ayahnya agar menemukan jalan yang benar sebagai tanda bakti kepada orang tua.

Dari hari ke hari, Nabi Ibrahim senantiasa berdakwah kepada kaumnya agar menyambah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, meski penuh resiko. Bahkan ia berani menghadapi Raja namrud. Hingga suatu hari ketika mengetahui patung-patung sesembahannya hancur, Raja Namrud memerintahkan agar menangkap Nabi Ibrahim as. Ia memerintahkan aparatnya untuk membakar hidup-hidup Nabi Ibrahim. Namun, berkat pertolongan Allah SWT Nabi Ibrahim selamat. Ia tidak merasakan panas ketika dibakar. Sebagaimana Allah SWT berfirman ,”Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.”

Perjalanan Nabi Ibrahim ini memberi gambaran tentang pertarungan antara tauhid melawan kemusyrikan. Kita wajib bertauhid kepada Allah SWT dan menjauhi kemusyrikan.

sumber : kisah hikmah

Manusia Makhluk Yang Sempurna

Allah SWT telah menciptakan bermacam-macam makhluk-NYA, dengan memiliki potensi dan bentuk yang berbeda. Di antara sekian banyak makhluk Allah , hanya manusia yang termasuk makhluk NYA yang sempurna. Kesempurnaan manusia tidak hanya dilihat dari bentuknya , tetapi juga dari potensi yang dibawanya. Potensi itu berupa akal dan nafsu. Karena ada makhluk yang hanya mempunyai akal, tetapi tidak memiliki nafsu, seperti malaikat. Ada juga makhluk yang hanya memiliki nafsu dan tidak diberikan akal, yaitu setan dan binatang.

Di satu sisi, dengan potensi itu, malaikat akan selalu berbuat baik, dan di sisi lain, setan dan binatang akan selalu berbuat salah. Lain halnya dengan manusia, ia kemungkinan berbuat baik, dan kemungkinan juga berbuat jahat.

Apabila manusia mempergunakan akalnya dengan baik dan tidak memperturutkan nafsunya, ia akan menjadi makhluk yang baik. Bahkan, derajat manusia akan lebih tinggi dari malaikat. Tetapi, bila hawa nafsu yang diperturutkan, manusia akan menjdi makhluk yang hina, bahkan lebih hina dari binatang.

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara

Orang-orang Munafik

Pada waktu Nabi menyampaikan risalah islam, orang-orang yang memiliki sifat munafik sudah mulai ada, terutama di kota Madinah. Mereka berusaha melemahkan semangat dan keyakinan kaum muslimin yang baru tumbuh. Mereka dikepalai oleh Abdullah bin Ubay. Ia mempunyai kedudukan sebagai kepala suku, dan memimpikan akan menjadi raja dari kota Madinah.

Walaupun jumlah orang munafik tidak terlalu banyak, namun keberadaan mereka sangat mengganggu Nabi dalam menyebarkan agama islam. Mereka selalu berusaha menghalangi orang-orang yang mengikuti ajaran Nabi saw. Namun demikian, Nabi dengan penuh kesabaran mengajak dan membimbing mereka agar mereka beriman sebaik-baiknya.

Orang-orang yang memiliki sifat munafik bisa menjadi penghalang kemajuan umat islam. Karena mereka tidak memiliki pendirian yang teguh. Mereka akan bersifat mendua, tergantung kepada yang menguntungkannya. Mereka akan sulit untuk diajak berjuang membela kebenaran. Apalagi jika kebenaran itu akan banyak merugikan dirinya.

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara

Orang Tua

Terkadanng kita salah dalam mengartikan orang tua. Biasanya, kita hanya menganggap ibu bapak yang melahirkan kita yang termasuk orang tua. Padahal, orang tua tidak sebatas ibu bapak yang melahirkan kita. Menurut Nabi Muhammad saw, orang tua itu ada tiga macam, yaitu

  1. orang tua yang telah melahirkan kita, yaitu ibu bapak
  2. orang tua yang telah medidikkita, yaitu guru
  3. orang tua yang telah menikahkan kita dengan anaknya, yaitu mertua.

dengan ketiga orang tua tersebut, hendaknya kita memperlakukannya dengan baik. karena ketiganya sangat berjasa kepada kita. Agama memberikan petunjuk kepada kita bagaimana sebaiknya kita bergaul dengan mereka. Tentunya, tidak sama cara kita bergaul kepada mereka dengan kita bergaul kepada teman kita.

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara

Menahan marah, Sifat Orang Bertakwa

Marah adalah perasaan jiwa yang dikendalikan oleh hawa nafsu. Nafsu yang menginginkan agar manusia melanggar aturan Tuhan. Nafsu itu dikenal dengan nafsul amarah. Oleh karena itu, orang yang pandai menahan amarahnya, berarti ia mampu mengendalikan nafsunya. Orang yang mampu mengendalikan nafsunya dengan menahan marah, digolongkan oleh Alquran dalam golongan orang yang bertakwa.

Alquran menjelaskan, “Dan segeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ” (QS. Ali Imron : 133-134)

Demikianlah Allah sangat menyukai orang-orang yang dapat menahan marah. Oleh karena itu, berusahalah untuk mengendalikan marah dan emosi, dengan banyak mengingat Allah dan mengingat kebaikan orang lain kepada kita. Selain itu, ada cara lain yang dapat membantu kita dalam mengendalikan emosi, yaitu berpuasa, berwudlu, instropeksi diri, berusaha memahami orang lain, dan mengekspresikan emosi secara wajar.

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara

Makanan dan Minuman yang Halal

Banyak disebutkan dalam kisah sahabat Nabi dan orang-orang saleh terdahulu, mereka sangat menjaga setiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut. Ketika makanan atau minuman itu sudah jelas kehalalannya, barulah mereka memakan atau meminumnya. Tapi kalau masih berbau syubhat, apalagi haram, mereka tidak akan mau memakannya, walaupun harus kelaparan.

Kehalalan makanan atau minuman, itu tidak hanya halal zatnya, tapi juga halal dari cara memperolehnya. Karena banyak makanan atau minuman yang zatnya halal, namun cara memperolehnya haram. Ini pun termasuk kategori barang haram.

Orang-orang saleh terdahulu (salafus saleh), sangat takut kepada peringatan Nabi saw. dalam hadistnya, yang artinya :“setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram maka neraka lebih utama baginya.”

Disamping itu, mereka sangat yakin bahwa makanan adalah sumber tenaga dan inspirasi untuk tubuh dan otak. Makanan yang halal akan membuat tubuh mudah  untuk diajak melakukan ibadah.

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara

Yang Membatalkan Pahala Puasa

Ada hal-hal yang membatalkan puasa, ada juga yang membatalkan pahala puasa. Terkadang kita hanya memperhatikan hal-hal yang membatalkan puasa, dan kurang memperhatikan sesuatu yang menghapuskan pahala puasa. Padahal, bila puasa yang kita lakukan hanya sah puasanya, tetapi tidak memperoleh paha.la, berarti puasa yang kita lakukan sia-sia karena kita hanya memperoleh lapar dan haus. Seperti dijelaskan Nabi saw.: “Berapa banyak orang yang melakukan puasa tidak memperoleh apa-apa dari puasanya, selain lapar dan dahaga.”

Diantara hal-hal yang membatalkan puasa adalah berdusta, menggunjing kejelekan orang lain, bersumpah palsu, dan melihat lawan jenis dengan syahwat.

Oleh karena itu, bagi orang yang mampu memelihara dirinya dari sesuatu yang membatalkan puasa dan pahala puasa maka setelah melakukan ibadah puasa Ramadhan, mereka akan memperoleh predikat orang bertakwa. Hal inilah yang ditegaskan Allah dalam Alquran tentang tujuan puasa.

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara

Malam kemuliaan

Sebagian ulama ada yang mengartikan lailatul qadar dengan malam kemuliaan. Mulia karena nilainya sama dengan seribu bulan. Selain itu, ,malam lailatul qadar merupakan malam diturunkannya Alquran pertama kali.

Lalu , kapankah malam kemuliaan itu turun? Ada banyak versi yang menjelaskan tentang hal tersebut.

  1. Sebagian ulama berpendapat bahwa malam kemuliaan itu pasti ada pada setiap bulan ramadhan. Namun, mereka tidak menjelaskan kepastian turunnya.
  2. Ada ulama yang berpendapat bahwa malam kemuliaan itu akan diturunkan Allah pada malam-malam ganjil di bulan ramadhan, terutama pada sepuluh malam yang terakhir.
  3. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa malam kemuliaan itu akan turun pada malam diturunkannya Alquran untuk pertama kali, yaitu pada malam 17 ramadhan.

Karena banyak pendapat yang berbeda itu , jika hendak bertemu dengan malam kemuliaan itu, sebaiknya kita memperbanyak ibadah, darii permulaan ramadhan sampai akhirnya.

sumber : Aminuddin, dkk.2004.Pendidikan Agama Islam.Jakarta : PT Bumi Aksara

id.wikipedia.org